Intelligent Design

Perancangan cerdas (bahasa Inggris: Intelligent design) adalah suatu pernyataan yang menyatakan bahwa “ciri-ciri tertentu pada alam semesta dan makhluk hidup merupakan hasil dari suatu sebab yang intelijen, bukan oleh proses tak termbimbing seperti seleksi alam.” Perancangan cerdas merupakan bentuk modern dari argumen teleologis akan keberadaan Tuhan, namun menghindari pendeskripsian sifat-sifat maupun identitas sang perancang itu. Gagasan ini dikembangkan oleh sekelompok kreasionis Amerika yang memformulasikan ulang argumen mereka untuk menyiasati putusan pengadilan Amerika Serikat yang melarang pengajaran ciptaanisme sebagai sains. Para pendukung perancangan cerdas pada Discovery Institute mempercayai bahwa perancang tersebut adalah Tuhan dalam agama Kristen.

Para pendukung perancangan cerdas berargumen bahwa perancangan cerdas adalah teori ilmiah, dan berusaha untuk secara mendasar mendefinisikan ulang sains agar sains dapat menerima penjelasan supranatural. Konsensus tegas dari komunitas ilmiah mengenai perancangan cerdas adalah bahwa perancangan cerdas bukanlah sains. Akademi Sains Nasional Amerika Serikat telah menyatakan bahwa “ciptaanisme, perancangan cerdas, dan klaim-klaim intervensi supranatural lainnya mengenai asal usul kehidupan ataupun spesies bukanlah sains karena klaim-klaim tersebut tidak dapat diuji oleh metode ilmiah.” Beberapa organisasi-organisasi pun menganggapnya sebagai ilmu semu.[18] Yang lainnya dalam komunitas ilmiah setuju dengan pengalamatan tersebut dan beberapa bahkan menyebutnya sebagai ilmu sampah.

Konsep perancangan cerdas ini berawal sebagai respon terhadap putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tahun 1987 dalam kasus Edwards v. Aguillard yang melibatkan pemisahan gereja (agama) dari negara. Publikasi pertama mengenai perancangan cerdas yang signifikan adalah sebuah buku tahun 1989 yang berjudul Of Pandas and People. Buku ini ditujukan sebagai buku teks pelajaran dalam kelas-kelas biologi sekolah menengah atas.Beberapa buku tambahan mengenainya juga telah dipublikasikan pada tahun 1990-an. Pada pertengahan 1990-an, para pendukung perancangan cerdas mulai berkumpul di Discovery Institute dan secara publik mengadvokasi pemasukan perancangan cerdas dalam kurikulum sekolah.Dengan Discovery Institute dan badan Center for Science and Culture milik institut tersebut memainkan peran pusat dalam perencanaan dan pendanaan, “gerakan perancangan cerdas” semakin muncul ke permukaan publik pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Hal ini mencapai puncaknya pada kasus pengadilan Dover yang menantang pengajaran perancangan cerdas dalam kelas-kelas sains sekolah.

Dalam kasus Kitzmiller v. Dover Area School District, sekelompok orang tua menggugat sebuah distrik sekolah yang mempersyaratkan para guru untuk menawarkan perancangan cerdas dalam kelas-kelas biologi sekolah sebagai “penjelasan alternatif mengenai asal usul kehidupan”. Hakim Distrik Amerika Serikat John E. Jones III memutuskan bahwa perancangan cerdas bukanlah sains, dan ia “tidak dapat memisahkan dirinya sendiri dari para pendahulu kreasionisnya, sehingga ianya bersifat religius”, dan bahwa penggalakan pengajaran perancangan cerdas yang dilakukan oleh distrik sekolah oleh karenanya melanggar “Klausa Pendirian” (Establishment Clause) Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.

Selain di Amerika Serikat, gerakan ini juga memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di banyak negara-negara Islam. Pandangan anti-evolusi sangat meluas dan mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah dan para elit-elit teolog. Secara umum, kreasionis Muslim telah bekerja sama dengan Institute for Creation Research, dan mengadaptasikan gagasan dan bahan-bahan ajaran mereka ke dalam argumen teologis mereka sendiri. Gagasan yang mirip dengan perancangan cerdas juga dianggap sebagai pilihan intelektual alternatif di kalangan umat Muslim. Di Turki, misalnya, banyak buku-buku perancangan cerdas yang diterjemahkan. Di Indonesia pula, buku-buku karya Harun Yahya yang menentang evolusi juga cukup populer.

Tinjauan umum

Istilah bahasa Inggris Intelligent Design (“perancanagn cerdas”) digunakan pertama kali setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan pada tahun 1987 pada kasus Edwards v. Aquillard bahwa mempersyaratkan pengajaran “sains kreasi” bersamaan dengan evolusi merupakan suatu pelanggaran terhadap “Klausa Pendirian” (Establishment Clause) Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat yang melarang adanya dukungan negara terhadap agama tertentu. Dalam kasus Edwards, Mahkamah Agung juga memutuskan bahwa “mengajarkan berbagai jenis teori ilmiah mengenai asal usul umat manusia kepada anak-anak sekolah dapat dilakukan dengan tujuan sekuler untuk meningkatkan efektivitas instruksi sains”. Dalam draf-draf buku teks sains kreasi Of Pandas and People, hampir semua turunan kata “creation” (kreasi) seperti “creationism” (ciptaanisme) digantikan dengan kata “intelligent design” (perancangan  cerdas).Buku ini diterbitkan pada tahun 1989, dan diikuti oleh kampanye yang mempromosikan penggunaan buku ini untuk diajarkan dalam kelas-kelas biologi sekolah menengah atas.

Putusan Mahkamah Agung yang sama mengenai kampanye ini membuat ahli hukum Phillip E. Johnson, dalam buku tahun 1991-nya, Darwin on Trial, mengadvokasikan pendefinisian ulang sains agar dapat mengijinkan klaim-klaim kreasi supranatural. Sekelompok advokat seperti Michael Behe, Stephen C. Meyer dan William Dembski bergabung dengan Johnson dengan tujuan menggulingkan naturalisme metodologis yang digunakan dalam metode ilmiah (yang ia sebut sebagai “materialisme“) dan menggantikannya dengan “realisme teistik” melalui apa yang mereka kemudian sebut sebagai wedge strategy. Pada revisi buku Of Pandas and People tahun 1993, Behe mendeskripsikan apa yang kemudian ia namakan “kerumitan tak tersederhanakan” (irreducible complexity).[ Pada tahun 1994, Meyer melakukan kontak dengan Discovery Institute dan setahun kemudian mendapatkan dana untuk mendirikan lembaga Center for Renewal of Science and Culture untuk mempromosikan gerakan perancangan cerdas dan mencari dukungan politik dan publik akan pengajaran “perancangan cerdas” sebagai alternatif dari teori evolusi, utamanya di Amerika Serikat.

Perancangan cerdas ditawarkan sebagai penjelasan alternatif terhadap penjelasan alamiah asal usul dan keanekaragaman kehidupan. Ia berlawanan dengan ilmu biologi yang bergantung pada metode ilmiah untuk menjelaskan kehidupan melalui proses-proses yang terpantau seperti mutasi dan seleksi alam. Tujuan perancangan cerdas adalah untuk menginvestigasi apakah terdapat bukti-bukti empiris yang menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi mestilah dirancang oleh seorang perancang cerdas. William A. Dembski, salah seorang pendukung perancangan cerdas, mengatakan bahwa klaim dasar perancangan cerdas adalah bahwa “terdapat sistem-sistem alam yang tidak dapat secara penuh dijelaskan menggunakan gaya-gaya dorong alamiah yang tak dibimbing dan bahwa sistem-sistem alam memperlihatkan ciri-ciri yang dalam kasus lainnya akan kita jelaskan sebagai akibat dari kecerdasan”.Dalam manifesto Discovery Institute yang bocor, dikenal dengan nama Wedge Strategy, para pendukung gerakan ini diberitahukan bahwa:

We are building on this momentum, broadening the wedge with a positive scientific alternative to materialistic scientific theories, which has come to be called the theory of intelligent design. Design theory promises to reverse the stifling dominance of the materialist worldview, and to replace it with a science consonant with Christian and theistic convictions.

Para pendukung perancangan cerdas mencari-cari bukti yang mereka istilahkan sebagai “tanda-tanda kecerdasan” dari suatu objek yang menunjuk pada seorang perancang. Sebagai contohnya, mereka berargumen bahwa arkeolog yang menemukan suatu patung batu dalam suatu lapangan boleh dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa patung tersebut dirancang, sehingga cukuplah beralasan untuk mencari identitas sang perancang patung tersebut. Arkeolog tersebut tidaklah boleh dibenarkan untuk membuat klaim yang sama berdasarkan ketidakteraturan tebing-tebing yang berukuran sama. Para pendukung perancangan cerdas ini berargumen bahwa sistem kehidupan menunjukkan kompleksitas yang tinggi, yang darinya mereka menduga bahwa beberapa aspek kehidupan dirancang.

Para pendukung pernacangan cerdas mengatakan bahwa walaupun bukti yang menunjukkan pada ciri-ciri “sebab intelijen ataupun perancang” tidaklah dapat secara langsung dipantau, efek-efeknya pada alam dapat dideteksi. Dembski dalam bukunya Signs of Intelligence, menyatakan: “Para pendukung perancangan cerdas menganggapnya sebagai suatu program riset ilmiah yang menginvestigasi efek-efek dari sebab-sebab intelijen … bukan (investigasi) sebab-sebab intelijen itu sendiri”. Dalam pandangannya, seseorang tidak dapat menguji identitas pengaruh eksterior terhadap suatu sistem tertutup dari dalam, sehingga pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas perancang tersebut di luar lingkup konsep perancangan cerdas. Dalam waktu 20 tahun sejak perancangan cerdas pertama kali dirumuskan, tiada satupun pengujian cermat yang dapat mengidentifikasi efek-efek ini pernah diajukan. Tidak ada satu pun pula artikel-artikel yang mendukung perancangan cerdas pernah diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah, maupun perancangan cerdas dijadikan sebagai subjek pengujian dan penelitian ilmiah. Filsuf Oxford A. C. Grayling mengesampingkan perancangan cerdas sebagai “kebodohan kekanak-kanakan yang sangat kecil; sebuah bekas masa kecil umat manusia”.

Asal usul konsep

Apakah kompleksitas alam mengindikasikan adanya rancangan yang disengajakan merupakan wacana filosofis yang dapat ditilik kembali pada filsafat Yunani kuno. Pada abad ke-4 SM dalam Timaeus, Plato berdasarkan argumentasinya menyatakan bahwa “demiurge” yang baik dan bijak adalah pencipta dan sebab pertama kosmos.[39][40] Dalam karyanya, Metafisika, Aristoteles mengembangkan gagasan “Penggerak tak bergerak” (κινούμενον κινεῖ). Dalam De Natura Deorum (Mengenai Sifat-Sifat Tuhan/Dewa, 45 SM) Cicero menyatakan bahwa “kuasa Tuhan ditemukan dalam prinsip-prinsip penalaran yang meliputi keseluruhan alam.” Penalaran ini dikenal sebagai argumen teleologis akan keberadaan Tuhan. Bentuk paling terkenal dari argumen ini diekspresikan pada abad ke-13 oleh Thomas Aquinas dan pada abad ke-19 oleh William Paley. Aquinas, dalam Summa Theologiae karyanya, menggunakan konsep perancangan dalam “pembuktian ke-lima”-nya akan keberadaan Tuhan. Paley, dalam Natural Theology (1802), menggunakan analogi tukang jam.

Pada abad ke-17, seorang dokter Inggris Sir Thomas Browne menulis sebuah wacana yang berargumen tentang perancangan cerdas. Karya tahun 1658-nya, The Garden of Cyrus, merupakan salah satu contoh “pembuktian” paling awal akan kebijakan Tuhan dan memberikan contoh-contoh perancangan cerdas dalam ilmu botani. Pada awal abad ke-19, argumen seperti ini mendorong perkembangan ilmu yang disebut sebagai teologi alam, yaitu kajian alam sebagai suatu cara untuk memahami “pikiran Tuhan”. Gerakan ini membangkitkan semangat untuk mengumpulkan fosil-fosil dan spesimen-spesimen biologi lainnya. Pada akhirnya, hal ini mendorong terbitnya karya Charles Darwin, On the Origin of Species. Zaman sekarang, penalaran yang mirip yang mempostulatkan keberadaan perancang dipeluk oleh para pemeluk evolusi teistik, yang menganggap sains modern dan teori evolusi secara penuh sesuai dengan konsep perancang supranatural.

Perancangan cerdas pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 merupakan hasil perkembangan teologi alam yang berusaha untuk mengubah dasar-dasar sains dan mengecilkan teori evolusi.Oleh karena teori evolusi telah berkembang pesat dan mampu menjelaskan banyak fenomena, contoh-contoh yang disebutkan sebagai bukti perancangan pun telah berubah, walaupun argumen dasarnya tetaplah sama, yaitu sistem yang kompleks menyiratkan adanya perancang. Contoh-contoh yang disebutkan pada masa lalu misalnya mata dan sayap burung; contoh zaman sekarang umumnya lebih bertumpu pada biokimia, meliputi fungsi protein, pembekuan darah, dan flagela bakteri.

Barbara Forrest mendeskripsikan gerakan perancangan cerdas dimulai pada tahun 1984 ketika organisasi keagamaan Jon A. Buell Foundation for Thought and Ethics (FTE) menerbitkan The Mystery of Life’s Origin yang ditulis oleh kreasionis dan kimiawan Charles B. Thaxton.[49] Pada bulan Maret 1986, tinjauan Stephen C. Meyer mengenai buku ini mendeskripsikan bahwa Thaxton menggunakan teori informasi untuk mensugestikan bahwa pesan-pesan yang ditransmisikan oleh DNA dalam sel menunjukkan “kompleksitas spesifik” yang memerlukan kecerdasan, dan itu haruslah berasal dari seorang perancang cerdas. Pada bulan November tahun itu pula, Thaxton menjelaskan penalarannya sebagai bentuk yang lebih canggih dari argumen perancangan Paley Pada konferensi Sources of Information Content in DNA tahun 1988, ia mengatakan bahwa pandangan penyebab intelijennya sesuai dengan naturalisme metafisik dan supranaturalisme, istilah intelligent design (“perancangan cerdas”) pun muncul.

Perancangan cerdas dengan sengaja menghindari pengidentifikasian ataupun penamaan perancang cerdas tersebut. Ia hanya menyatakan bahwa satu (atau lebih) perancang mestilah ada. Walaupun perancangan cerdas itu sendiri tidak menamakan perancang yang disiratkan, para advokat utama gerakan ini mengatakan bahwa perancangnya adalah Tuhan umat Kristiani.Baik apakah ketiadaan spesifisitas mengenai identitas sang perancang ini dalam diskusi publik merupakan konsep integral perancangan cerdas itu sendiri ataukah hanya suatu cara agar tidak menyisihkan para pendukung yang memisahkan agama dari pengajaran sains menjadi topik perdebatan antara para pendukung dengan para kritikus perancangan cerdas. Putusan pengadilan pada kasus Kitzmiller v. Dover Area School District memutuskan bahwa ini hanyalah siasat untuk menghindari larangan pemisahan agama dari negara.

Asal istilah

Of Pandas and People adalah buku pertama mengenai perancangan cerdas. Majalah Rethinking Schools mengkarakterisasikannya sebagai “risalah kreasionis yang dipermak agar kelihatan seperti sebuah diskusi ilmiah yang sahih”.

Sebelum publikasi buku Of Pandas and People pada tahun 1989, kata “intelligent design” telah digunakan dalam beberapa kasus sebagai frasa deskriptif, berbeda dari penggunaan modernnya untuk mengalamatkan suatu bidang atau ilmu. Frasa “intelligent design” dapat ditemukan pada terbitan Scientific American tahun 1847, pada buku tahun 1850 oleh Patrick Edward Dove, dan bahkan dalam sepucuk surat tahun 1861 oleh Charles Darwin.[59] Frasa ini digunakan ini untuk mengalamatkan pertemuan tahun 1873 British Association for the Advancement of Science oleh botanis George James Allman:

No physical hypothesis founded on any indisputable fact has yet explained the origin of the primordial protoplasm, and, above all, of its marvellous properties, which render evolution possible—in heredity and in adaptability, for these properties are the cause and not the effect of evolution. For the cause of this cause we have sought in vain among the physical forces which surround us, until we are at last compelled to rest upon an independent volition, a far-seeing intelligent design.[60]

Frasa ini dapat ditemukan kembali dalam buku Humanism tahun 1903 yang ditulis oleh F.C.S. Schiller: “It will not be possible to rule out the supposition that the process of evolution may be guided by an intelligent design”. Turunan frasa ini muncul dalam Encyclopedia of Philosophy (1967) dalam artikel berjudul “Teleological argument for the existence of God”: “Stated most succinctly, the argument runs: The world exhibits teleological order (design, adaptation). Therefore, it was produced by an intelligent designer”. Robert Nozick (1974) menulis: “Consider now complicated patterns which one would have thought would arise only through intelligent design”. Frasa “intelligent design” dan “intelligently designed” digunakan dalam buku filosofi tahun 1979 Chance or Design? oleh James Horigan dan frasa “intelligent design” digunakan dalam pidato tahun 1982 Sir Fred Hoyle.

Penggunaan modern kata “intelligent design” sebagai istilah yang diperuntukkan untuk merujuk pada suatu bidang penyelidikan dimulai setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan dalam kasus Edwards v. Aguillard (1987) bahwa ciptaanisme tidaklah konstutisional diajarkan pada kurikulum sains sekolah publik. Sebuah laporan Discovery Institute mengatakan bahwa Charles Thaxton, editor Of Pandas and People, mengambil frasa “intelligent design” ini dari seorang ilmuwan NASA, dan berpikir bahwa “Inilah apa yang saya perlukan, ini merupakan istilah yang bagus”.[65] Dalam draf buku tersebut, lebih dari seratus kali turunan kata “creation” (ciptaan) seperti “creationism” (ciptaanisme) dan “creation science” (sains kreasi) yang digunakan diubah semuanya menjadi “intelligent design” (perancangan cerdas),manakala kata “creationists” (kreasionis) diubah menjadi “design proponents” (pendukung perancangan) ataupun dalam satu contoh terdapat kata, “cdesign proponentsists” (gabungan “creationist” dan “design proponent”).[sic] Pada bulan Juni tahun 1988, Thaxton mengadakan sebuah konferensi yang berjudul “Sources of Information Content in DNA” (Sumber kandungan informasi dalam DNA) di Tacoma, Washington, dan pada bulan Desember tahun itu pula memutuskan untuk menggunakan label “intelligent design” untuk gerakan kreasionis barunya. Stephen C. Meyer berada pada konferensi itu dan kemudian mengingat kembali bahwa “istilah tersebut muncul”.

Penggunaan istilah “creationism” versus “intelligent design” dalam serangkaian draft buku Of Pandas and People

Of Pandas and People dipublikasikan pada tahun 1989, dan merupakan buku pertama yang secara ekstensif menggunakan frasa “intelligent design”, “design proponents,” dan “design theory”, sehingga mewakili bermulainya gerakan “perancangan cerdas” modern. “Intelligent design” merupakan istilah yang paling menonjol di antara lima belas istilah baru yang diperkenal oleh para kreasionis untuk menentang evolusi tanpa menggunakan bahasa-bahasa yang bernada religius.Buku ini memberikan semua argumen dasar para pendukung perancangan cerdas sebelum riset apapun dilakukan untuk mendukung argumen tersebut. Buku ini pula secara aktif dipromosikan oleh para kreasionis untuk digunakan dalam sekolah. Majalah Rethinking Schools mengkritik buku ini dan mengatakan bahwa buku ini adalah “risalah kreasionis” yang dibungkus sedemikiannya agar tampak seperti buku teks sains berkualitas tinggi, dengan “sampul yang mengkilap, ilustrasi penuh warna, dan judul-judul bab seperti ‘Homology’ dan ‘Genetics and Macroevolution'”, dan sejumlah “grafik yang dibuat secara profesional dan illustrasi-ilustrasi yang tampaknya menunjukkan betapa konkretnya bukti ilmiah yang mendukung keberadaan ‘sang perancang’ tak bernama”. Filsuf sains Michael Ruse percaya bahwa kandungan isi buku tersebut “tidak berharga dan penuh kebohongan”, dan dideskripsikan oleh seorang pengacara ACLU sebagai alat politik yang ditujukan kepada murid-murid yang tidak “tahu sains ataupun mengerti kontroversi akan evolusi dengan ciptaanisme”.

 Konsep utama

Kerumitan tak tersederhanakan

Konsep kerumitan tak tersederhanakan dipopulerkan oleh Michael Behe dalam buku tahun 1996-nya, Darwin’s Black Box.

Istilah “kerumitan tak tersederhanakan” (irreducible complexity) diperkenalkan oleh biokimiawan Michael Behe dalam sebuah buku tahun 1996, Darwin’s Black Box, walaupun sebelumnya ia telah menjelaskan konsep ini dalam edisi revisi buku Of Pandas and People tahun 1993. Behe mendefinisikannya sebagai “suatu sistem tunggal yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berinteraksi, yang berkontribusi terhadap fungsi dasar sistem tersebut. Penghilangan salah satu bagian tersebut akan menyebabkan sistem berhenti berfungsi secara efektif”.

Behe menggunakan analogi perangkap tikus untuk mengilustrasikan konsepnya. Perangkap tikus terdiri dari beberapa bagian yang saling berinteraksi: papan dasar, penangkap, per, dan palu. Semuanya haruslah ada agar perangkap tikus ini dapat bekerja. Penghilangan salah satu bagian akan merusak fungsi perangkap tikus tersebut. Advokat perancangan cerdas menekankan bahwa seleksi alam tidak dapat menciptakan sistem yang kerumitannya tidak dapat disederhanakan, karena fungsi tersebut ada hanya ketika semua bagian tersebut tersusun dengan baik. Behe berargumen bahwa mekanisme kerumitan tak tersederhanakan ini terdapat pada flagela bakteri E. coli, sistem pembekuan darah, silia, dan sistem immun.

Namun para pengkritik menunjukkan bahwa argumen kerumitan tak tersederhanakan ini berasumsi bahwa semua bagian yang diperlukan sistem tersebut selalu diperlukan dan sehingganya tidak dapat ditambahkan secara berurutan.Diargumenkan bahwa sesuatu yang pertama kali tampaknya hanya menguntungkan (tambahan) dapat menjadi bagian penting yang diperlukan dan tidak dapat dilepaskan seiring dengan berubahnya komponen lain. Lebih jauh lagi, evolusi seringkali bekerja dengan mengubah bagian-bagian yang telah ada, ataupun menghilangkan bagian-bagian tersebut dari sistem, daripada menambahkannya. Ini beranalogi dengan bahan perancah yang dapat mendukung bangunan kompleks yang tak tereduksi dalam proses pembangunannya, dan dapat dilepaskan sampai ia benar-benar dapat berdiri sendiri.[74] Behe sendiri pun mengakui bahwa ia menggunakan “prosa yang lemah/buruk”, dan bahwa “argumennya menentang Darwinisme tidak memberikan pembuktian logis apapun”. Kerumitan tak tersederhanakan masih merupakan argumen yang populer digunakan oleh para advokat perancangan cerdas. Dalam pengadilan Dover tersebut, pengadilan memutuskan bahwa “klaim Profesor Behe akan kerumitan tak tereduksi telah dibantah dalam makalah-makalah ilmiah yang telah ditinjausejawatkan (peer reviewed) dan telah pula ditolak oleh komunitas ilmiah secara meluas”.

Kerumitan spesifik

Pada tahun 1986, kimiawan kreasionis Charles Thaxton menggunakan istilah “kerumitan spesifik” (specified complexity) dari teori informasi untuk mengklaim bahwa pesan-pesan yang ditransmisikan oleh DNA dalam sel ditentukan secara cerdas, dan haruslah berasal dari agen intelijen. Konsep “kerumitan spesisk” dikembangkan pada tahun 1990-an oleh matematikawan, filsuf, dan teolog William Dembski. Dembski menyatakan bahwa ketika sesuatu menunjukkan kerumitan spesifik (yakni kompleks maupun “spesifik” secara bersamaan), seseorang dapat mengatakan bahwa itu merupakan hasil dari sebab-sebab intelijen daripada hasil proses-proses alam. Dembski memberikan contoh sebagai berikut: “Satu huruf tunggal alfabet spesifik tanpa sendirinya kompleks. Kalimat yang panjang dengan huruf-huruf acak adalah kompleks tapi tidak spesifik. Karya Shakespeare adalah kompleks maupun spesifik”. Ia menyatakan bahwa detal-detail makhluk hidup dapat sama halnya dikarakterisasikan, utamanya “pola-pola” urutan molekul biologis seperti DNA.

William Dembski mengajukan konsep kerumitan spesifik.

Dembski mendefinisikan informasi spesifik kompleks (complex specified information, CSI) sebagai apapun yang peluang (alami) kemunculannya adalah kurang dari 1 di antara 10150. Para pengkritik mengatakan bahwa ini membuat argumennya bersifat tautologi: informasi spesifik kompleks tidak dapat terjadi secara alami karena Dembski telah mendefinisikannya sebagai demikian, sehingga pertanyaan sebenarnya adalah apakah CSI tersebut ada atau tidak di alam.

Argumen Dembski yang tampaknya masuk akal telah didiskreditkan secara meluas oleh komunitas ilmiah dan matematikawan. Kerumitan spesifik tidak menunjukkan hal-hal apapun yang dapat diterapkan dalam bidang apapun. John Wilkins dan Wesley Elsberry mengkarakterisasikan “penyaringan penjelasan” (explanatory filter) Dembski bersifat eliminatif, karena ia mengeleminasi penjelasan-penjelasan secara berurutan: eliminasi regularitas, kemudian eliminasi peluang, dan terakhir menyimpulkannya secara perancangan. Prosedur ini cacat secara inferensi ilmiah karena ia memperlakukan penjelasan-penjelasan memungkinkan yang berbeda secara asimetrik, membuatnya sangat rentan menghasilkan kesimpulan yang salah.

Richard Dawkins, kritikus perancangan cerdas, berargumen dalam bukunya, The God Delusion, bahwa dengan mengijinkan seorang perancang yang cerdas bertanggung jawab terhadap suatu kompleksitas yang tidak memungkinkan hanya menunda permasalahan itu sendiri. Karena perancang tersebut juga paling tidak haruslah sekompleks ataupun lebih kompleks daripada rancangannya. Ilmuwan lainnya berargumen bahwa evolusi melalui seleksi lebih dapat menjelaskan kompleksitas terpantau, sebagaimana yang dibuktikan dari penggunaan evolusi selektif dalam proses perancangan sistem-sitem elektronik, aeronautik, dan otomotif yang dianggap terlalu kompleks bagi “perancang cerdas” manusia.

Alam semesta yang tertala baik

Para pendukung perancangan cerdas juga kadang-kadang mengungkit-ungkit argumen yang berada di luar ruang lingkup biologi. Utamanya adalah argumen yang didasarkan pada konsep alam semesta yang tertala dengan baik (fine-tuned universe). Diargumenkan bahwa penalaan alam semesta yang baik membuat materi dan kehidupan memungkinkan, dan ini tidaklah dapat terjadi secara kebetulan. Contoh penalaan yang baik ini misalnya konstanta fisika, gaya nuklir, elektromagnetisme, dan gravitasi. Menurut Guillermo Gonzalez, seorang astronom yang mendukung perancangan cerdas, berargumen bahwa apabila nilai-nilai konstanta ini sedikit saja berbeda, maka alam semesta akan menjadi sangat berbeda, membuat banyak unsur kimia beserta materi-materi alam semesta tidak mungkin terbentuk. Oleh karenanya, para pendukung berargumen bahwa seorang perancang kehidupan diperlukan untuk memastikan bahwa alam semesta tertala dengan baik.

Para ilmuwan hampir semuanya merespon bahwa argumen ini tidak dapat diuji dan tidak produktif secara ilmiah. Beberapa ilmuwan pun berargumen bahwa bahkan apabila argumen ini hanyalah spekulasi, ia tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada. Victor J. Stenger dan pengkritik lainnya mengatakan bahwa baik perancangan cerdas maupun prinsip antropik secara esensial adalah tautologi. Dalam pandangannya, argumen ini berujung pada klaim bahwa kehidupan bisalah ada karena alam semesta dapat mendukung kehidupan. Klaim ketidakmungkinan alam semesta yang tidak dapat mendukung kehidupan juga telah dikritik sebagai argumen dari ketidaktahuan, karena ia berasumsi bahwa bentuk kehidupan yang lainnya tidak mungkin ada. Kehidupan yang kita kenal sekarang ini mungkin tidak ada apabila semuanya berbeda, namun bentuk kehidupan yang lain dapatlah ada untuk menggantikan kehidupan yang kita kenal. Sejumlah kritikus juga mensugestikan bahwa banyak variabel-variabel argumen ini saling berhubungan dan perhitungan oleh para matematikawan dan fisikawan juga menyimpulkan bahwa kebermunculan alam semesta yang mirip dengan alam semesta kita adalah mungkin.

Pendukung perancangan cerdas, Granville Sewell, juga menyatakan bahwa evolusi bentuk-bentuk kompleks kehidupan mewakili adanya penurunan entropi, sehingga melanggar hukum kedua termodinamika dan mendukung perancangan cerdas.Namun, argumen ini merupakan kesalahan penerapan prinsip-prinsip termodinamika. Hukum kedua termodinamika hanya berlaku bagi sistem tertutup. Jika argumen ini adalah benar, maka makhluk hidup tidak dapat lahir dan tumbuh, karena ini juga merupakan penurunan entropi. Namun, seperti evolusi, pertumbuhan makhluk hidup tidak melanggar hukum kedua termodinamika, karena kehidupan bukanlah sistem tertutup, yakni kehidupan memiliki sumber energi eksternal (makanan, oksigen, dan sinar matahari) yang produksinya memerlukan peningkatan keseluruhan entropi alam semesta.

Perancang cerdas

Argumen perancangan cerdas dirumuskan dalam istilah-istilah sekuler dan dengan sengaja menghindari identifikasi agen (ataupun agen-agen) cerdas yang bertanggung jawab terhadap perancangannya. Walaupun para pendukung tidak menyatakan bahwa Tuhan adalah sang perancang tersebut, perancang ini sering secara implisit dihipotesiskan mengintervensi sedemikian rupanya hanya ada satu Tuhan yang bertanggung jawab. Dembski, dalam bukunya The Design Inference, berspekulasi bahwa seorang alien dapatlah memenuhi persyaratan ini. Walau demikian, menurut penjelasan otoriter perancangan cerdas, dinyatakan secara eksplisit bahwa Alam semesta menunjukkan ciri-ciri bahwa ia dirancang. Mengakui adanya paradoks ini, Dembski menyimpulkan bahwa “tiada agen cerdas yang ada secara fisik dapatlah ada sebelum alam semesta ataupun kehidupan berawal”.

Di luar permasalahan apakah perancangan cerdas ini ilmiah, sejumlah kritikus berargumen bahwa bukti-bukti yang ada membuat hipotesis perancangan tidak memungkinkan. Sebagai contoh, Jerry Coyne bertanya mengapa seorang perancang akan “memberikan kita suatu lintasan metabolisme untuk menghasilkan vitamin C, tetapi kemudian merusaknya dengan menghilangkan salah satu enzim lintasan tersebut”. Ia juga bertanya mengapa perancang tersebut tidak “memenuhi pulau-pulau samudera yang terpencil dengan reptil, mamalia, amfibi, dan ikan air tawar walaupun pulau terpencil tersebut dapat mendukung spesies-spesies tersebut. Sebelumnya, dalam karyanya Darwin’s Black Box, Behe telah berargumen bahwa kita tidaklah dapat memahami motif sang perancang tersebut, sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab secara pasti. Perancangan yang aneh, sebagai contohnya, “telah dirancang oleh sang perancang … untuk alasan artistik, untuk memamerkan perancangan, untuk tujuan-tujuan yang belum diketahui, ataupun untuk alasan-alasan lain yang tidak terduga”.

Penekanan bahwa diperlukannya seorang perancang kerumitan juga telah memicu pertanyaan “apakah yang telah merancang sang perancang?” Pendukung perancangan cerdas mengatakan bahwa pertanyaan ini irelevan karena ia berada di luar ruang lingkup perancangan cerdas. Richard Wein menolak jawaban seperti itu dan berargumen bahwa pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang dihasilkan oleh suatu penjelasan “haruslah diseimbangkan untuk memajukan pemahaman kita akan apa yang diberikan oleh penjelasan tersebut. Mencetuskan makhluk yang tak terjelaskan untuk menjelaskan asal usul makhluk lain (kita sendiri) tidaklah lebih dari kesesatan logika petitio principii. Pertanyaan baru yang dihasilkan oleh penjelasan awal sama problematiknya dengan pertanyaan awal yang coba dijelaskan oleh penjelasan awal tersebut”. Richard Dawkins memandang penekanan bahwa sang perancang tidaklah perlu dijelaskan tidaklah memberikan kontribusi apa-apa terhadap pengetahuan kita, tetapi hanya merupakan kata-kata klise. Tanpa adanya bukti-bukti yang terukur dan terpantau, pertanyaan “Apakah yang merancang sang perancang?” akan menyebabkan regresi tak terhingga, yang hanya dapat di atasi apabila para pendukung perancang cerdas menggunakan argumen kreasionisme religius ataupun kontradiksi logika.

Ciptakan dan ajarkan kontroversi

Satu strategi kunci yang digunakan oleh gerakan perancangan cerdas untuk menyebarkan konsep mereka adalah berusaha meyakinkan warga publik bahwa terdapat perdebatan di kalangan ilmuwan sendiri mengenai keabsahan evolusi. Gerakan perancangan cerdas menciptakan kontroversi ini untuk meyakinkan masyarakat awam, para politikus, dan tokoh-tokoh masyarakat bahwa sekolah haruslah “mengajarkan kontroversi” ini. Pada kenyataannya, tiada satupun kontroversi dalam komunitas ilmiah mengenai keabsahan evolusi; konsensus komunitas ilmiah dalam hal ini adalah kehidupan berevolusi.Pada tanggal 21 Juni 2006 pula, melalui Interacademy Panel on International Issues, akademi-akademi sains nasional dari 67 negara, termasuk pula Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Royal Society Britania, dan Akademi Sains Iran, mengeluarkan suatu pernyataan bersama mengenai pengajaran evolusi yang menegaskan keabsahan dan keilmiahan evolusi. Perancangan cerdas dipandang luas sebagai suatu batu loncatan bagi para pendukungnya untuk meruntuhkan dasar-dasar fondasi filosofi sains yang oleh mereka katakan sebagai materialis, sehingga hal ini tidak memberikan ruang terhadap kemungkinan adanya Tuhan.

Kontroversi yang diciptakan oleh para pendukung perancangan cerdas ini mendapatkan sorotan media massa yang luas di Amerika Serikat, utamanya semasa peradilan Kitzmiller v. Dover pada akhir tahun 2005 dan setelah mantan Presiden George W. Bush mengekspresikan dukungannya terhadap gagasan pengajaran perancangan cerdas bersamaan dengan evolusi pada bulan Agustus tahun 2005. Sebagai respon terhadap pernyataan Bush dan peradilan federal yang ditunda ini, majalah Time menerbitkan artikel setebal delapan halaman yang membahas Perang Evolusi.  Sampul majalah tersebut menampilan satu gambar yang memarodikan gambar “Penciptaan Adam” yang terdapat pada Kapel Sistina. Dalam gambar parodi tersebut, jari tangan Tuhan menunjuk pada seekor simpanse beserta kata renungan: “The push to teach “intelligent design” raises a question: Does God have a place in science class?” (Dorongan untuk mengajarkan “perancangan cerdas” mencuatkan pertanyaan: “Apakah Tuhan mempunyai tempat dalam kelas-kelas sains?”). Dalam kasus Kitzmiller v. Dover, pengadilan memutuskan bahwa perancangan cerdas memiliki posisi religius dan kreasionis, setelah menemukan bahwa baik perancangan cerdas maupun Tuhan merupakan bahan ajaran yang tidak seharusnya ada dalam kelas-kelas sains.

Sains empiris menggunakan metode ilmiah untuk menciptakan pengetahuan a posteriori yang didasarkan pada pengamatan dan pengujian hipotesis dan teori secara berulang-ulang. Para pendukung perancangan cerdas berusaha mengubah dasar fondasi ilmiah ini dengan menghilangkan “naturalisme metodologis” dari sains dan menggantikannya dengan apa yang disebut oleh Phillip E. Johnson sebagai “realisme teistik”. Beberapa pihak telah menyebut pendekatan ini sebagai “supranaturalisme metodologis”, yang berarti kepercayaan akan realitas transeden di luar dimensi alam yang dihuni oleh dewa transeden yang non-natural pula.Para pendukung perancangan cerdas berargumen bahwa penjelasan naturalistik gagal dalam menjelaskan fenomena-fenomena tertentu, manakala penjelasan supranatural dapat memberikan penjelasan yang sangat sederhana dan intuitif mengenai asal usul kehidupan dan alam semesta. Mereka mengatakan pula bahwa bukti-bukti argumen ini terdapat dalam bentuk kerumitan tak tersederhanakan dan kerumitan spesifik yang tidak dapat dijelaskan oleh proses-proses alam.

Mereka juga berpendapat bahwa netralitas keagamaan mempersyaratkan pengajaran baik evolusi maupun perancangan cerdas dalam kurikulum sekolah. Mereka beralasan bahwa dengan hanya mengajarkan evolusi, hal ini merupakan diskriminasi terhadap keyakinan para kreasionis. Oleh karena itu, mereka berargumen bahwa dengan pengajaran perancangan cerdas, negara dapat mengijinkan kepercayaan religius dalam pengajaran sekolah tanpa sendirinya mendukung salah satu agama tertentu. Banyak pengikut perancangan cerdas percaya bahwa “Saintisme” itu sendiri juga adalah agama yang mempromosikan sekularisme dan materialisme dalam suatu upaya untuk menghapus peranan teisme dari kehidupan publik. Mereka memandang bahwa usaha mereka dalam mempromosikan perancangan cerdas merupakan salah satu cara untuk mengembalikan agama dalam bidang pendidikan sebagai pemain utamanya.

Menurut para pengkritik, perancangan cerdas tidak pernah sekalipun memberikan contoh-contoh ilmiah yang kredibel. Para pengkritik juga menduga advokat perancangan cerdas berusaha menggantikan riset ilmiah dengan dukungan publik dalam usahanya memasukkan perancangan cerdas dalam kurikulum sekolah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s